
Lampung, Gema Nusantara – Tokoh adat sekaligus sesepuh masyarakat Lampung, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Ike Edwin, S.Ik., EH., MH., MM., kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan budaya Lampung dengan menggelar silaturahmi bersama para tokoh adat Saibatin dan Pennyimbang Tuha Raja. Kegiatan yang berlangsung di Lamban Gedung Kuning (LGK), kediaman pribadi Dang Ike di Bandar Lampung, pada Minggu, 20 Juli 2025 itu dihadiri oleh tidak kurang dari 37 perwakilan tokoh adat dari berbagai wilayah di Provinsi Lampung.
Acara silaturahmi ini tidak hanya menjadi ruang temu antar sesama pemangku adat, tetapi juga menjadi wadah penyamaan visi dalam memperkuat identitas budaya, menjaga warisan leluhur, dan membangun sinergi antara dua entitas adat besar di Lampung, yaitu Saibatin dan Pepadun. Dalam sambutannya, Dang Ike – sapaan akrab Irjen Pol (Purn) Ike Edwin – menegaskan pentingnya membangun kembali semangat persatuan di antara tokoh-tokoh adat demi menciptakan Provinsi Lampung yang bermartabat, berbudaya, dan berdaya guna.
“Sudah saatnya antara tokoh adat Saibatin dan Pepadun bersatu untuk melestarikan adat dan budaya, jangan sampai terpecah belah,” tegas Dang Ike dengan penuh semangat. Ia mengajak para tokoh adat untuk tidak hanya berbangga dengan sejarah dan warisan budaya, tetapi juga aktif menjaga dan mempertahankan nilai-nilai luhur agar tetap hidup dan relevan di tengah tantangan zaman.
Lebih jauh, Dang Ike menyoroti kekhawatiran terhadap lunturnya nilai-nilai adat di kalangan generasi muda akibat pengaruh negatif globalisasi, pergaulan bebas, hingga penyebaran perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma adat dan agama. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian serius, menurutnya, adalah meningkatnya kasus perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Lampung, yang menurut beberapa data telah mencapai angka mencengangkan, yakni sekitar 20 ribu orang.

“Kejadian ini menjadi tanggung jawab kita bersama, para Saibatin dan Pennyimbang Tuha Raja. Ini bukan sekadar isu sosial, tapi ancaman nyata terhadap masa depan adat dan moral generasi kita,” ujar Dang Ike. Ia menambahkan bahwa keberadaan LGBT, selain bertentangan dengan nilai adat Lampung yang menjunjung tinggi piil pesenggiri dan harga diri, juga bertabrakan dengan norma agama yang tegas melarangnya. Ia mendesak agar para tokoh adat tidak berpangku tangan, tetapi terlibat aktif dalam membimbing dan membentengi generasi muda dari pengaruh menyimpang tersebut.
Penegakan hukum terhadap pelaku LGBT yang terbukti melanggar norma hukum juga menjadi sorotan Dang Ike. Menurutnya, selain pendekatan budaya dan pendidikan moral, langkah hukum juga diperlukan agar ada efek jera dan kontrol sosial yang kuat di masyarakat. Ia mendorong aparat penegak hukum dan para pemangku adat bekerja sama dalam membangun lingkungan sosial yang bersih dan sehat secara moral.
Dukungan terhadap seruan dan gagasan tersebut juga datang dari Mustika Bahrum, tokoh adat dari Kabupaten Pesawaran yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung. Dalam sambutannya, Mustika menyatakan keprihatinannya terhadap kerusakan moral yang merambah generasi muda, khususnya dalam konteks keberadaan LGBT yang dinilainya sebagai ancaman terhadap nilai-nilai luhur adat dan agama.

“Lampung adalah daerah yang memiliki kekuatan budaya luar biasa, namun jika kita lengah, warisan ini bisa tercemari oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri kita,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa dalam ajaran agama, perilaku LGBT sangat dilarang dan bahkan darahnya dihalalkan dalam hukum tertentu. Oleh karena itu, ia mengajak para tokoh adat untuk mengambil peran nyata dalam memberikan perlindungan moral dan sosial kepada anak-anak serta generasi penerus bangsa.
Mustika juga mengapresiasi inisiatif silaturahmi yang digagas oleh Dang Ike, dan mendorong agar persatuan antara Saibatin dan Pepadun terus diperkuat demi kemajuan bersama. Ia mencontohkan Provinsi Bali sebagai daerah yang berhasil menjadikan adat dan budaya sebagai kekuatan ekonomi melalui sektor pariwisata. Hal tersebut menurutnya bisa juga diterapkan di Lampung, yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang tak kalah potensial.
“Kita bisa belajar dari Bali, bagaimana budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi dan identitas daerah yang mendunia. Lampung punya potensi itu. Yang kita butuhkan hanya satu: persatuan,” tandasnya.
Di akhir acara, simbolisasi komitmen bersama dilakukan melalui prosesi tukar pin antara perwakilan tokoh adat Saibatin dan Pepadun. Momen ini menjadi simbol persaudaraan dan tekad bersama dalam menjaga serta memajukan adat istiadat Lampung yang agung dan penuh makna.
Silaturahmi adat ini menjadi bukti bahwa di tengah berbagai tantangan zaman, para tokoh adat Lampung masih tetap teguh berdiri sebagai penjaga nilai-nilai budaya dan moral bangsa. Melalui dialog, persatuan, dan aksi nyata, mereka berkomitmen untuk terus menjaga marwah adat Lampung agar tetap hidup, dihormati, dan diwariskan kepada generasi mendatang dengan penuh kebanggaan. (Gus)





