SD DUMAS Kota Surabaya Deklarasikan Sekolah Ramah Anak: Teguhkan Komitmen Ciptakan Lingkungan Aman, Nyaman, dan Inklusif

Surabaya, Gema Nusantara – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Dupak Masigit 1, berdiri sebuah sekolah dasar yang sarat tekad dan cita-cita luhur: SD DUMAS. Sabtu pagi yang cerah itu, suasana di dalam sekolah terasa berbeda. Ruang belajar berubah menjadi arena penuh semangat, ketika pihak sekolah menggelar Sosialisasi dan Motivasi sekaligus Deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA).

Bagi Kepala Sekolah, Zaenab, S.Pd, deklarasi ini bukan sekadar acara seremonial. “Sekolah Ramah Anak bukan hanya program tahunan, tetapi semangat yang harus hadir di setiap denyut kehidupan sekolah. Anak-anak harus merasa dihargai, dilindungi, dan diberi ruang untuk berkembang secara optimal, baik secara akademis maupun emosional,” ujarnya tegas di hadapan guru, siswa, dan tamu undangan.

Acara ini menghadirkan narasumber penting, Syaiful Bachri atau yang akrab disapa Kak Ipul, Ketua Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya. Ia membawakan materi tentang perlindungan anak, pencegahan kekerasan di sekolah, dan bahaya konten negatif dari game online. Penjelasannya yang lugas membuat para siswa, guru, dan orang tua tergerak untuk lebih peka dan peduli.

Deklarasi ini memuat tujuh prinsip utama yang menjadi fondasi SD DUMAS sebagai Sekolah Ramah Anak:

  1. Non-Diskriminasi – Semua anak tanpa terkecuali berhak mendapat kesempatan yang sama.
  2. Berani Lapor – Siswa didorong melapor jika mengalami kekerasan, baik di sekolah maupun di rumah.
  3. Kepentingan Terbaik bagi Anak – Setiap kebijakan sekolah memprioritaskan kesejahteraan anak.
  4. Penghargaan terhadap Hak Anak – Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut mereka.
  5. Partisipasi Aktif Anak – Mendorong keterlibatan siswa dalam belajar dan kegiatan ekstrakurikuler.
  6. Lingkungan Aman dan Sehat – Menyediakan fasilitas bersih, makanan sehat, dan ruang bermain aman.
  7. Perlindungan dari Kekerasan dan Perundungan – Menyediakan konseling, pelatihan anti-bullying, dan kotak pengaduan rahasia.

Di lapangan, semangat SRA telah diwujudkan melalui inovasi pembelajaran yang interaktif—diskusi kelompok, bermain peran, hingga pemanfaatan media digital. Fasilitas sekolah dirawat semaksimal mungkin: toilet bersih, kantin sehat, serta area bermain yang aman. Ada pula kegiatan senam pagi bersama, kelas keterampilan, pelatihan kepemimpinan mini, hingga program gotong royong yang melibatkan orang tua dan alumni.

“Kami mungkin masih minim dari sisi sarana dan prasarana, tapi itu tidak menghalangi kami untuk bergerak,” tutur Zaenab.

Kak Ipul menegaskan, langkah SD DUMAS adalah awal yang patut diapresiasi. “Deklarasi ini bukan akhir, melainkan awal perubahan. Sekolah adalah tempat membangun karakter, nilai kemanusiaan, dan kehidupan sosial yang harmonis. Walau fasilitasnya sederhana, SD DUMAS telah menyalakan obor harapan bahwa masa depan pendidikan bisa lebih cerah,” ujarnya di hadapan 150 siswa yang mengikuti kegiatan ini.

Acara ditutup dengan pembacaan komitmen bersama, disertai tepuk tangan riuh seluruh peserta. Di balik bangunan yang sederhana, semangat besar SD DUMAS untuk menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman bagi anak-anak kini telah terpatri kuat, menandai babak baru perjalanan sekolah ini menuju pendidikan yang benar-benar ramah anak.
(Triwono)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *