
Sidoarjo, Gema Nusantara – Pasar Buduran yang sempat sepi kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Disperindag menggandeng para pegiat budaya dalam upaya menghidupkan kembali denyut pasar yang juga merupakan bagian dari cagar budaya daerah itu.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Pasar Buduran, Kamis,(31/7/2025).
FGD mempertemukan unsur pemerintah dan komunitas budaya dalam satu forum. Hadir dalam diskusi itu antara lain Kepala Disperindag Sidoarjo Widiyantoro Basuki, Kasatpol PP Yani Setiyawan, pengelola pasar Kasun Budiarta, UPT Pasar Rakyat Herlambang, Korwil Pasar Buduran Darmo Sumari.
Sementara dari unsur kebudayaan hadir sejumlah tokoh dan penggerak komunitas, seperti Sayudi, Ketua Persatuan Budayawan Jagad Suwung Nusantara (PBJSN), Mbah Umar dari Barisan Pejuang Kebudayaan Bangsa (BPKB), Paidi dari Padepokan Jagad Suwung, serta Bambang Purwanto selaku Koordinator Pegiat Budaya Sidoarjo.
Kepala Disperindag Sidoarjo Widiyantoro Basuki menyebut FGD ini sebagai langkah awal untuk membangkitkan kembali fungsi pasar sebagai ruang publik yang hidup dan inklusif.

“Pasar Buduran bukan hanya tempat jual beli. Ia menyimpan sejarah dan budaya. Jika kita hanya membenahi fisiknya, pasar ini tetap akan sepi. Yang dibutuhkan adalah roh kehidupan, dan budaya bisa menjadi salah satu penggeraknya,” tegasnya.
Disperindag, menurut Widiyantoro, membuka diri terhadap berbagai inisiatif komunitas. Ke depan, ia merancang agar kegiatan budaya menjadi bagian dari rutinitas pasar. “Kami ingin ada ruang budaya, pertunjukan rakyat, pameran kuliner tradisional. Bukan event sesaat, tapi kegiatan berkelanjutan,” katanya.
Pegiat budaya Bambang Purwanto mendukung langkah tersebut. Ia menyebut revitalisasi pasar Buduran harus dimulai dari pendekatan kultural, bukan hanya teknis.
“Pasar adalah tempat rakyat bertemu. Kalau hanya isinya dagangan dan tiang-tiang beton, maka dia bukan pasar rakyat, tapi hanya gedung kosong. Budaya bisa menjadi magnet, menghidupkan ruang dan mempertemukan warga,” katanya.
Bambang mengusulkan agar agenda kesenian rakyat dihadirkan setiap akhir pekan. “Ada pasar, ada gamelan, ada dolanan, ada makanan khas Sidoarjo. Orang tidak sekadar belanja, tapi juga bersilaturahmi secara budaya,” ujarnya.
Dari sisi ketertiban dan penataan, Kasatpol PP Sidoarjo Yani Setiyawan menekankan pentingnya pendekatan humanis. Ia mengakui bahwa menata pasar tidak bisa hanya dengan instruksi dan sanksi.
“Kalau pasar mau hidup, harus ada rasa memiliki. Ketertiban bukan soal seragam atau pentungan, tapi soal komunikasi dan kolaborasi. Kami mendukung penuh, asal tetap dalam koridor keteraturan,” ucap Yani.
Ia juga mengingatkan agar kegiatan budaya tidak hanya seremonial. “Kami ingin ini berkelanjutan, bukan hanya proyek satu dua bulan,” tambahnya.
Sementara itu, Sayudi, Ketua PBJSN, menekankan bahwa pelibatan generasi muda menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Ia mendorong agar kegiatan budaya di pasar mengakomodasi keterlibatan pelajar dan komunitas pemuda.
“Kalau yang datang hanya para sepuh, budaya ini tidak akan berlanjut. Harus ada regenerasi. Kita bisa mulai dari lomba macapat untuk anak-anak, pelatihan tari tradisional di ruang pasar, hingga nguri-uri kuliner khas Sidoarjo,” tuturnya.
FGD ini diakhiri dengan beberapa kesepakatan . Akan disusun agenda bulanan berbasis budaya di pasar Buduran, termasuk mengidentifikasi potensi kuliner dan produk lokal yang bisa dikembangkan. Komunitas budaya pun siap membentuk tim kerja bersama.
Kasun Budiarta,Pengelola Pasar Buduran ,berharap pasar buduran yang selama ini sepi ,menjadi pasar pertama di Sidoarjo yang memadukan fungsi ekonomi dan budaya dalam satu napas.
(Sap/Gus)





