
Lamongan, Gema Nusantara – Gema selawat dan lantunan doa tak hanya mengisi udara di kompleks makam Sunan Drajat, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata kemanusiaan. Peringatan Haul ke-516 Raden Qosim—yang akrab disapa Sunan Drajat—tahun ini tampil beda. Melampaui sekadar ritual ziarah, rangkaian acara ini menjadi panggung besar bagi nilai-nilai kepedulian sosial sang Waliyullah yang tetap relevan melintasi zaman.
Kemeriahan mulai terasa pada Sabtu (7/2/2026). Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti pelaksanaan sunat massal dan santunan anak yatim. Di antara riuh dukungan moral keluarga, wajah-wajah berani para peserta sunat menjadi simbol keberlanjutan generasi.

Senyum tulus anak-anak yatim saat menerima santunan seolah menghidupkan kembali falsafah luhur Sunan Drajat yang melegenda:
”Wenehono mangan marang wong kang luwe, wenehono payung marang wong kang kudanan” (Berilah makan kepada yang lapar, berilah payung kepada yang kehujanan).
Titik kulminasi acara berlangsung pada tanggal 14 Februari. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru nusantara membanjiri kompleks makam, mengubah suasana menjadi lautan manusia yang bersatu dalam spiritualitas. Gema ayat suci Al-Qur’an dan selawat menciptakan atmosfer magis, menyatukan hati dalam kekhusyukan doa bersama.
Hendri Fahrudin, Koordinator Pelestarian Sejarah Sunan Drajat, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan—termasuk agenda olahraga yang disisipkan—adalah upaya “rebranding” ajaran wali agar mudah diterima masyarakat modern.

“Haul ini adalah momentum pengamalan ajaran. Kita tidak hanya mengingat sosoknya, tapi menghidupkan kembali nilai kepeduliannya melalui aksi nyata,” ujarnya.
Keautentikan sejarah Sunan Drajat pun tetap terjaga rapi. Luqman Hakim, keturunan sekaligus juru kunci makam, mengungkapkan bahwa sejarah perjuangan sang wali terdokumentasi dalam manuskrip kuno yang telah melewati masa penjajahan Belanda.
Secara historis, peran vital Raden Qosim diakui sejak tahun 1484 Masehi ketika Sultan Raden Fatah dari Kesultanan Demak menetapkannya sebagai penguasa Tanah Perdikan Drajat dengan gelar Sunan Mayang Madu. Gelar ini bukan sekadar jabatan politik, melainkan pengakuan atas perannya sebagai pemimpin spiritual sekaligus motor penggerak kesejahteraan sosial.
Peringatan ke-516 ini membuktikan bahwa dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan nyata) milik Sunan Drajat tak lekang oleh waktu. Perpaduan antara olahraga, aksi sosial, dan ritual keagamaan mencerminkan keseimbangan hidup yang beliau ajarkan: harmoni antara hubungan dengan Tuhan (hablun minallah) dan hubungan antarmanusia (hablun minannas).
Melalui haul ini, masyarakat diajak untuk tidak hanya terpaku pada sejarah masa lalu, tetapi aktif menjadi bagian dari “estafet” kebaikan yang telah dimulai oleh sang Waliyullah lima abad silam. (Red)





