
Sidoarjo – Gema Nusantara. Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2025, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Sidoarjo akan turun ke jalan bersama puluhan elemen serikat pekerja/serikat buruh dari seluruh Jawa Timur. Gerakan massa buruh ini akan bermuara di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, sebagai bentuk protes sekaligus penyampaian tuntutan kolektif atas berbagai persoalan klasik yang tak kunjung diselesaikan pemerintah.
Tak kurang dari 1.000 buruh FSPMI Sidoarjo akan dikerahkan dalam aksi ini. Mereka dijadwalkan berkumpul (titik kumpul/tikum) di Alun-Alun Sidoarjo pada pukul 08.00 WIB. Sebelum bergabung dengan massa buruh dari daerah lain di Surabaya, FSPMI Sidoarjo akan terlebih dahulu menyampaikan aspirasinya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo.
Ketua PC FSPMI Sidoarjo Denny Nobel S.H dan diwakili langsung oleh sekretaris yakni Acmad Chikam S.H , dalam pernyataannya, menegaskan bahwa May Day bukan sekadar seremonial. “Ini adalah momentum perjuangan. Suara kami adalah suara rakyat pekerja. Kami turun bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk menuntut hak konstitusional kami,” ujarnya lantang.
Dalam orasinya di depan Pemkab, FSPMI Sidoarjo akan mendesak pemerintah daerah untuk segera mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang akses pendidikan gratis bagi anak buruh tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan kuota afirmasi sebesar 5%.
Langkah ini dianggap penting sebagai kelanjutan dari regulasi Provinsi Jawa Timur yang sudah lebih dahulu mengakomodasi anak buruh masuk SMA/SMK Negeri melalui jalur afirmasi. “Jangan sampai anak buruh putus sekolah hanya karena terlahir dari orang tua yang digaji murah dan tidak punya akses kekuasaan,” tegas juru bicara aksi.

Setelah menyuarakan aspirasinya di tingkat kabupaten, massa FSPMI akan bergabung dengan buruh lain di Kantor Gubernur Jawa Timur. Di tingkat provinsi, tuntutan FSPMI mencakup tiga isu fundamental: pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan.
Seperti yang di sampaikan oleh korlap aksi dari Sidoarjo oleh Achmad chikam S.H
- Pendidikan
Massa buruh menuntut peningkatan kuota afirmasi anak buruh dari yang semula hanya 5% menjadi 15%. Mereka menilai bahwa pendidikan adalah kunci memutus rantai kemiskinan struktural yang dialami keluarga buruh selama puluhan tahun. - Kesehatan
FSPMI mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) guna membiayai iuran Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Jangan biarkan buruh sakit tidak berobat karena tidak mampu. Kesehatan adalah hak, bukan barang mewah,” teriak seorang orator dari atas mobil komando. - Ketenagakerjaan
Tuntutan terakhir adalah diterbitkannya Perda yang mengatur tentang pesangon pekerja. Hal ini dianggap krusial di tengah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak tanpa kejelasan pesangon yang layak.
Aksi FSPMI ini bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Seperti apa yang di bilang oleh korlap Acmad cikam S.H, Ribuan buruh dari berbagai daerah di Jawa Timur, dari Mojokerto hingga Gresik, dari Pasuruan hingga Jember, akan bahu-membahu dalam barisan perjuangan. Mereka satu suara menuntut pemerintah tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi juga nyata dalam kebijakan.
“Kalau pemerintah terus abai, maka jalanan akan terus jadi ruang demokrasi kami,” kata seorang peserta aksi sambil mengacungkan poster bertuliskan “Anak Buruh Berhak Sekolah, Buruh Berhak Hidup Layak!”
Aksi May Day 2025 ini adalah penanda bahwa perjuangan buruh belum selesai. Di balik derap langkah massa menuju Surabaya, ada harapan, ada luka, dan ada tekad untuk mengubah nasib melalui solidaritas.
FSPMI Sidoarjo telah menyatakan sikap: mereka tidak akan diam, mereka akan terus bersuara. Karena diam berarti tunduk, dan tunduk bukanlah watak kaum buruh yang telah lama melawan.
(D’Robi – Gus)





