
Sidoarjo, Gema Nusantara | 29 April 2025 – Di balik sunyinya hamparan sawah Desa Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, tersembunyi jejak masa lalu yang selama ini terpendam di bawah tanah. Sebuah penemuan tak terduga telah membuka kembali lembaran sejarah purbakala yang mengubah wajah desa yang tenang ini menjadi pusat perhatian publik dan kalangan arkeolog.
Penemuan ini terjadi pada tanggal 1 Oktober 2015, ketika seorang warga tengah menggali sumur untuk mengairi tanaman kacang hijau. Saat cangkul menyentuh lapisan keras di bawah permukaan tanah, warga menemukan tumpukan batu bata yang tersusun rapi. Tak disangka, susunan tersebut tidak sembarangan – ia membentuk pola yang menyerupai saluran air kuno, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar terkubur di bawah sana.

Warga yang pertama kali melihat tumpukan bata itu adalah Wagimin, 57 tahun, seorang petani yang telah puluhan tahun menggarap lahan tersebut. Ia tak menyangka bahwa tanah yang setiap hari diinjaknya menyimpan rahasia besar dari peradaban masa lalu.
“Awalnya saya kira itu cuma puing-puing rumah lama, tapi setelah kami gali lagi, kok batanya rapi sekali, seperti saluran air,” tutur Wagimin. “Saya langsung panggil tetangga, dan keesokan harinya ramai-ramai kami gali lebih dalam.”
Dari situlah awal mula Situs Sendang Agung ditemukan.
Penggalian dilanjutkan secara gotong royong oleh warga setempat. Seiring bertambahnya kedalaman, semakin banyak struktur batu bata yang terungkap. Pada kedalaman 2,4 meter, warga menemukan bentuk menyerupai sumur melingkar dari bata merah kuno yang masih utuh. Tidak hanya satu, namun terdapat beberapa struktur serupa di lokasi berbeda yang tersebar di area persawahan.

Setidaknya terdapat enam titik penemuan yang dicatat secara berurutan, yang menunjukkan bahwa area tersebut merupakan bagian dari sistem yang luas dan kompleks. Di antaranya adalah saluran air, dinding batu bata besar, dan sumur batu kuno yang masih terhubung dengan aliran air tanah.
Seiring berjalannya waktu, warga memberi nama tempat itu Situs Sendang Agung, mengacu pada fungsi utama dari situs ini yang berkaitan dengan sumber air dan kemungkinan pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat masa lampau.
Peneliti dari Balai Arkeologi Jawa Timur yang kemudian turun ke lokasi mengonfirmasi bahwa struktur bata tersebut berasal dari masa klasik Hindu-Buddha di Jawa Timur, yang ditandai dengan teknik penyusunan batu bata khas masa kerajaan.
“Ini menunjukkan adanya pemukiman atau fasilitas irigasi yang sangat maju. Temuan seperti ini tidak hanya penting bagi sejarah lokal, tetapi juga nasional,” ungkap salah satu arkeolog dalam kunjungannya ke Urangagung.
Kini, masyarakat Desa Urangagung bersama dengan paguyuban setempat tengah merintis upaya pelestarian dan pengembangan situs ini sebagai wisata sejarah dan edukasi. Harapannya, Situs Sendang Agung tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi generasi masa depan.
“Kami ingin anak cucu tahu, bahwa tanah ini punya sejarah besar. Bukan cuma untuk bertani, tapi juga menyimpan cerita dari zaman kerajaan,” ujar Wagimin penuh harap.
Dengan semangat warga dan dukungan berbagai pihak, Situs Sendang Agung di Desa Urangagung kini menjadi simbol bahwa sejarah bisa ditemukan di tempat yang paling tak terduga – bahkan dari lubang kecil di tengah sawah.
(Arman)





