Diduga Oknum Perangkat Desa Glagah Arum Serang Warga Kritikus, KORAK Sidoarjo Siap Turun Investigasi

Sidoarjo, Gema Nusantara — Suasana di Desa Glagah Arum, Kecamatan Porong, mendadak memanas. Seorang warga yang dikenal vokal dalam mengkritisi kebijakan desa diduga menjadi sasaran serangan personal dari oknum perangkat desa. Dugaan ini langsung memicu sorotan publik.

Komunitas Rakyat Anti Korupsi (KORAK) DPC Sidoarjo menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh aparatur desa. Seharusnya, perangkat desa menerima kritik atau aspirasi masyarakat dengan lapang dada, bukan justru menyerang balik dengan cara yang merendahkan martabat pribadi warga.

Kecurigaan semakin menguat setelah beredar tangkapan percakapan di aplikasi WhatsApp. Dalam percakapan itu disebut adanya upaya “menggoreng masalah” dengan melibatkan salah satu oknum media online. Media tersebut bahkan sempat menayangkan artikel berjudul “Trik Jitu Akselerasi Kekayaan ala Oknum Pendamping PKH”. Padahal hingga kini, tuduhan itu belum disertai bukti valid.

“Ini sudah melenceng dari etika. Media seharusnya netral dan menyajikan informasi yang berimbang. Jika justru dipakai sebagai alat menyerang personal demi kepentingan tertentu, maka itu merusak fungsi pers itu sendiri,” tegas salah satu pengurus KORAK DPC Sidoarjo.

KORAK memastikan dalam waktu dekat akan melakukan investigasi mendalam terkait dugaan kolaborasi antara oknum perangkat desa dan oknum media online tersebut. Mereka menilai praktik semacam ini bisa mencederai nilai demokrasi, terutama dalam hubungan antara masyarakat dengan pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.

“Kami tidak akan tinggal diam. Perlu ada transparansi dan kejelasan peran. Jangan sampai praktik-praktik kotor seperti ini terus berulang dan merugikan masyarakat hanya karena berani menyampaikan kritik,” tambahnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat warga tidak boleh dibungkam dengan cara-cara yang menjatuhkan harkat pribadi. Publik kini menanti langkah investigasi KORAK untuk membongkar dugaan permainan kotor yang mencoreng citra pemerintahan desa. (Lisa/Gus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *