
Sidoarjo, Gema Nusantara — Bupati Sidoarjo, Subandi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pabrik tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian (18/5), sebagai bagian dari langkah pengawasan terhadap penggunaan bahan bakar dari limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Dalam kunjungannya, Subandi menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk melarang penggunaan limbah B3 dan mendorong pelaku usaha beralih ke sumber energi ramah lingkungan.
“Kami ingin UMKM tetap tumbuh, namun harus sesuai aturan. Penggunaan limbah B3 tidak hanya melanggar hukum, tapi juga membahayakan kesehatan masyarakat,” ujar Subandi di sela-sela kunjungan.
Sidak tersebut turut diikuti oleh jajaran pejabat daerah, termasuk Dandim 0816/Sidoarjo Letkol Dedyk Wahyu Widodo, Sekretaris Daerah Fenny Apridawati, Kepala DLHK Bahrul Amiq, Kapolsek Krian Kompol I Gede Putu Atma Giri, dan Kepala Desa Tropodo Haris Iswandi. Rombongan meninjau dua lokasi produksi tahu—satu masih menggunakan limbah B3, dan satu lagi telah beralih ke bahan bakar alternatif yang lebih aman.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyiapkan solusi energi bersih, seperti kayu dan gas, untuk mendukung transisi energi bagi para pelaku UMKM. Pemerintah juga akan menanggung 50 persen biaya penggunaan gas, serta menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membangun infrastruktur energi.
“Pemkab bersama Pemprov Jatim akan bantu pembiayaannya. Infrastruktur gas akan kami bangun bersama pihak swasta melalui CSR,” tambah Subandi.
Ia menegaskan, pemerintah tidak akan segan mengambil langkah hukum terhadap pelaku usaha yang masih melanggar aturan. “Masalah ini sudah menjadi sorotan internasional. Kita harus serius melindungi masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo, Bahrul Amiq, menyatakan bahwa limbah B3 yang dilarang mencakup karet, ban bekas, sol sepatu, busa, dan styrofoam. Ia menambahkan, pengawasan akan terus dilakukan secara intensif, dan limbah B3 yang tersisa telah diangkut dari lokasi produksi.
“Beberapa pelaku usaha sudah beralih ke bahan bakar yang lebih aman. Kami akan terus mendorong transisi ini,” ujar Amiq.
Pemerintah Desa Tropodo juga diminta untuk turut serta dalam mengawal pelaksanaan kebijakan ini demi menjaga kesehatan lingkungan dan mendukung keberlanjutan industri lokal. (Lisa-Arya)





