Banjir Bandang dan Tanah Longsor Lenyapkan Dua Desa di Lapang, Aceh Utara

LPSA Salurkan Bantuan Sembako, Warga Terjebak Lumpur Tebal dan Kekurangan Relawan

Aceh Timur, Gema Nusantara – Bencana banjir bandang disertai tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh meninggalkan duka mendalam dan kerusakan yang sangat parah. Di Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, dua desa dilaporkan lenyap dari peta, yakni Desa Matang Baroh dan Desa Kuala Cangkoi, akibat terjangan air bah dan longsoran tanah yang datang secara tiba-tiba dan masif.

Bacaan Lainnya

Hingga saat ini, kondisi di wilayah terdampak masih sangat memprihatinkan. Banyak akses jalan tidak dapat dilalui, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Bahkan, di sejumlah titik, warga dan relawan terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer untuk menjangkau lokasi pengungsian dan daerah terdampak.

Di tengah situasi darurat tersebut, Lembaga Pejuang Srikandi Aceh (LPSA) menunjukkan kepedulian nyata dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Ketua DPP LPSA Farrah Amza bersama Ketua DPD LPSA Aceh Utara Ida Wahyuni menyalurkan bantuan sembako kepada korban banjir di Gampoeng Tanjong Ara, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, Selasa (17/12/2025). Bantuan diserahkan langsung kepada Keuchik (Kepala Desa) setempat dan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Menurut penuturan warga, saat banjir melanda kawasan tersebut, ketinggian air mencapai sekitar 2,5 meter, merendam rumah-rumah, fasilitas ibadah, serta sarana umum lainnya. Ironisnya, hingga hari ini, warga belum mampu melakukan pembersihan lumpur, baik di rumah maupun di masjid. Endapan lumpur yang tersisa disebut mencapai ketebalan antara 2 hingga 3 meter, sehingga banyak bangunan dan harta benda warga terkubur dan tidak mungkin lagi digali atau diselamatkan.

Bencana ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Selain kerusakan fisik, banjir bandang dan tanah longsor tersebut juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar, serta menghancurkan sumber penghidupan masyarakat. Sawah, kebun, ternak, hingga peralatan rumah tangga lenyap tersapu arus deras.

Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan minimnya jumlah relawan. Saat ini, sebagian besar bantuan hanya mengandalkan relawan lokal, sementara relawan dari luar daerah semakin berkurang. Padahal, kebutuhan tenaga untuk evakuasi, pembersihan, layanan kesehatan, hingga distribusi logistik masih sangat besar.

Situasi serupa juga terjadi di wilayah lain. Di Kabupaten Aceh Tengah, beberapa daerah terdampak hanya dapat diakses dengan berjalan kaki puluhan kilometer karena jalan utama tertutup longsoran dan lumpur tebal. Sementara itu, bantuan melalui jalur udara dinilai masih belum maksimal dan belum mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak, sehingga banyak warga yang belum tersentuh bantuan secara merata.

Melalui Ketua Pengawas DPP LPSA, M. Kumar Ab. CPLA, LPSA menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus desakan tegas kepada pemerintah pusat agar segera mengambil langkah cepat, terukur, dan maksimal dalam penanganan bencana di Aceh.

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan hanya sembako, tetapi juga pemulihan trauma, layanan kesehatan, dan perhatian serius terhadap anak-anak serta balita. Mereka adalah kelompok paling rentan dan harus menjadi prioritas utama,” tegas M. Kumar Ab. CPLA.

Sebagai bentuk solidaritas lintas daerah, DPC PWDPI Sidoarjo yang juga dipimpin oleh Ketua DPD LPSA Jawa Timur, Agus Subakti, ST, menyatakan rencana untuk mendirikan posko bantuan kemanusiaan di Sidoarjo. Posko tersebut direncanakan akan menjadi pusat penggalangan bantuan logistik, dana, serta kebutuhan mendesak lainnya yang akan disalurkan langsung kepada korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.

“Bencana ini adalah duka kita bersama. Kami di Jawa Timur tidak boleh tinggal diam. Pendirian posko bantuan di Sidoarjo diharapkan dapat mempercepat pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi saudara-saudara kita di Aceh,” ujar Agus Subakti, ST.

Agus Subakti, ST (Ketua DPC PWDPI Sidoarjo/Ketua DPD LPSA Jawa Timur)

LPSA menegaskan komitmennya untuk terus berada di tengah masyarakat terdampak bencana serta mendorong sinergi antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, relawan, dan masyarakat luas. Diharapkan, dengan kerja bersama dan respons cepat, kondisi masyarakat Aceh dapat segera pulih dari trauma, kelaparan, dan krisis kemanusiaan yang tengah mereka hadapi.
(Gus/Bertus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *