
Sidoarjo, Gema Nusantara – Tradisi Nyadran Dewi Sekardadu kembali digelar masyarakat Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan yang berlangsung di kawasan makam Dewi Sekardadu, Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167.
Tradisi turun-temurun ini merupakan wujud rasa syukur para nelayan atas limpahan hasil laut, sekaligus doa bersama agar senantiasa diberi keselamatan saat melaut. Nyadran juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat pesisir yang hingga kini masih konsisten menjaga warisan budaya leluhur.
Rangkaian ritual Nyadran yang digelar setiap akhir bulan Ruwah diawali dengan prosesi arak-arakan perahu yang membawa tumpeng hasil bumi. Warga, mayoritas kaum ibu, turut membawa tumpeng untuk dihantarkan ke makam Dewi Sekardadu yang diyakini sebagai ibunda Sunan Giri.

Suasana kian semarak saat arak-arakan tumpeng bergerak menuju lokasi pemberangkatan. Belasan perahu ikut mengiringi prosesi tersebut. Usai doa bersama, tumpeng kemudian diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan dan rezeki.
Setelah berziarah, warga melanjutkan prosesi dengan melarungkan tumpeng serta sesaji ke laut di sekitar Selat Madura. Ritual ini menjadi simbol sedekah bumi dan laut, sekaligus harapan agar nelayan memperoleh rezeki yang melimpah dan selalu diberi perlindungan selama melaut.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sidoarjo, Bahrul Amig, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat dalam melestarikan tradisi Nyadran.

“Kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang diberikan. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil, terutama nilai kebersamaan dan gotong royong yang harus terus dipertahankan, serta menjaga warisan leluhur nenek moyang kita agar tetap lestari di hati generasi muda yang akan datang,” ujar Amig saat memberikan sambutan di lokasi, Minggu (8/2/2026).
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar tanpa kendala.
“Dari pemerintah, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan Nyadran ini. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua,” tambahnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Zahlul Yuzar, menegaskan bahwa tradisi Nyadran bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya menjaga jati diri masyarakat pesisir.
“Ini tradisi turun-temurun. Lewat Nyadran, para nelayan berdoa agar diberi keselamatan saat melaut dan hasil tangkapan yang melimpah. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan warga,” kata Zahlul.
Hingga kini, Nyadran Dewi Sekardadu masih menjadi momen yang dinantikan masyarakat pesisir Sidoarjo. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal budaya Jawa, tetapi juga menunjukkan kuatnya nilai religius dan semangat gotong royong yang tetap terjaga menjelang bulan suci Ramadan. (Lisa)





