
Surabaya, Gema Nusantara – Kota Surabaya kembali menggeliat dalam denyut seni yang kuat dan penuh semangat. Sebuah pameran lukisan bertajuk “Dejavu” resmi digelar mulai Minggu, 3 Agustus 2025, pukul 16.00 WIB, bertempat di Galeri Merah Putih, Komplek Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo No. 15. Pameran ini berlangsung hingga 7 Agustus 2026, membuka ruang interaksi dan apresiasi seni rupa antara seniman dan masyarakat.
Pameran ini menghadirkan 17 perupa dengan latar belakang, pengalaman, dan gaya yang beragam. Mereka adalah Aliet, Ami Tri, Adrinala Nila, Arief Wong, Budi Bi, Choy Roel, Cholis Rajaba, Djoko E&, Didik HP, H. Nurcholis, Hence Virgornina, Murdi Murdock, Muit Arsa, Webeech, dan Welldo. Setiap seniman membawa narasi visual yang berbeda, dengan pendekatan estetika dan teknik yang khas, menjadikan pameran ini penuh warna, dinamika, dan kejutan visual.
Tajuk “Dejavu” dipilih bukan sekadar sebagai nama, melainkan sebagai simbol dan ide utama dari pameran ini. Dejavu adalah perasaan seolah pernah mengalami sesuatu sebelumnya, meski belum tentu pernah benar-benar terjadi. Perasaan itu pula yang ingin dibangkitkan oleh para seniman melalui karya-karyanya—rasa akrab yang misterius, kenangan samar yang menempel, dan pengalaman visual yang menggugah emosi pengunjung. Karya-karya yang dipamerkan tak hanya menyentuh sisi visual, namun juga menyusup ke dalam ruang reflektif yang mengajak pengunjung berdialog dengan dirinya sendiri.
Salah satu peserta pameran, Djoko E&, yang juga merupakan jurnalis PWDPI menyampaikan bahwa proses kreatifnya dalam pameran ini lebih bersifat emosional daripada teknikal. “Setiap lukisan yang saya tampilkan di ‘Dejavu’ adalah pantulan dari hal-hal yang dulu pernah saya rasakan, mungkin juga pernah saya lupakan. Saya percaya, seni itu bukan hanya tentang bentuk, tapi tentang keberanian mengungkap ulang yang tak sempat diucapkan,” ujarnya. Ia berharap karya-karyanya mampu membangkitkan perasaan yang tak bisa dijelaskan, namun dapat dirasakan bersama oleh setiap pengunjung yang datang.

Pameran “Dejavu” juga menjadi bukti bahwa semangat berkesenian di Surabaya tidak pernah padam. Galeri Merah Putih, sebagai ruang seni yang konsisten mendukung gerakan kreatif lokal, kembali memainkan peran penting dalam menyediakan ruang berekspresi dan berinteraksi antara perupa dan publik. Dengan latar lokasi yang strategis di pusat kota, galeri ini menjadi titik temu antara ide, estetika, dan apresiasi lintas generasi.
Pembukaan pameran berlangsung hangat, dihadiri oleh para pelaku seni, pemerhati budaya, kolektor, serta masyarakat umum. Suasana kekeluargaan dan semangat berbagi pengalaman artistik begitu terasa. Dalam sambutannya, panitia menyampaikan bahwa pameran ini merupakan wujud kebersamaan para seniman dalam membangun ruang ekspresi bersama, sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk lebih dekat dengan seni rupa.
Selama lima hari pelaksanaan, pameran ini dapat dikunjungi secara gratis. Tak hanya melihat lukisan, pengunjung juga diajak meresapi proses kreatif yang dituangkan dalam setiap goresan kuas, perpaduan warna, serta bentuk-bentuk yang sering kali mengandung makna tersembunyi. Kehadiran berbagai karakter visual dari 17 perupa menjadi kekayaan tersendiri yang membuat “Dejavu” layak disebut sebagai salah satu peristiwa seni penting di pertengahan tahun ini.
Kesuksesan acara ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, di antaranya Surabaya Art Hub, Tesla Paints, Paper Surabaya, serta Galeri Merah Putih sendiri. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat memajukan dunia seni bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga komunitas dan publik secara luas.
Dengan atmosfer yang menggugah, pameran “Dejavu” tidak sekadar memamerkan lukisan, tetapi menyajikan pengalaman menyeluruh yang akan terus hidup dalam ingatan para pengunjungnya. Sebuah momentum yang membuktikan bahwa seni mampu menjadi jembatan batin antara seniman dan masyarakat, antara yang nyata dan yang terasa pernah ada. Dejavu, dalam ruang dan waktu yang baru, kini hadir untuk disaksikan dan dikenang. (Gus-Lisa)